Bio Imam Muslim
Bagi kaum muslimin, nama Imam Muslim sudah tidak asing lagi. Beliau dikenal sebagai ulama ahli hadis setelah Imam Al-Bukhari. Nama lengkap beliau adalah Imam Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Warad bin Kausyaz Abu Al-Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi.
Imam Muslim adalah satu dari banyak ulama ahli hadis yang meriwayatkan hadis-hadis shahih dan valid dari Nabi Muhammad Nabi صلى الله عليه وسلم. Nama kitab beliau yang mahsyur adalah Shahih Muslim.
Kegigihan Imam Muslim dalam mencari hadis, mengumpulkan, menuliskannya dan memilah mana yang shahih dan lemah dari Nabi dikagumi banyak ulama dan penuntut ilmu. Berikut biografi singkat Imam Muslim sebagaimana disampaikan Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim".
Ustaz Hanif menyebutkan, An-Naisaburi merupakan nisbah terhadap tempat kelahiran beliau yaitu Kota Naisabur, bagian dari Khurasan yang sekarang manjadi bagian dari negara Iran arah timur laut. Kota ini dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, politik, dan perekonomian. Sedangkan Khurasan, menurut Imam Dzahabi dalam kitabnya al-Amshar Dzawatu al-Atsar adalah tempat berputarnya hadis dan berkumpulnya orang-orang mulia. Karena di sana merupakan salah satu tempat diperolehnya sanad 'ali (hadis dengan jalur periwayat yang pendek).
Kelahiran Imam Muslim
Para ahli sejarah Islam berbeda pendapat mengenai waktu lahir dan wafat Imam Muslim. Ada yang menyebut beliau dilahirkan pada tahun 206 H dan wafat pada tahun 261 H di Naisabur, sehingga usia beliau pada saat wafat adalah 55 tahun. Hal ini sebagaimana dikatakan Abu Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitab Ulama Al-Amshar, juga disetujui An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (123/1).
Namun, pendapat lain menyebut beliau lahir tahun 204 H. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Taqribut Tahdzib (529), Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah (35-34/11), al-Khazraji dalam Khulashoh Tahdzibul Kamal mengatakan bahwa Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H, atau tepat di tahun Imam Syafi'i wafat.
Hidup di Era Abbasiyah
Imam Muslim lahir pada 206 Hijriyah dan wafat pada tahun 261 Hijriyah. Beliau hidup pada masa daulah Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad. Beliau hidup pada masa Abbasiyyah II yaitu khalifah Mutawakkil (232-334 H/847-946 M). Pada masa itu, keadaan politik dan militer mengalami kemerosotan, namun dalam bidang ilmu pengetahuan mengalami kemajuan signifikan.
Bahkan sampai abad ke-4 Hijriyah daulah Islamiyah mencapai zaman keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan dan ilmu Hadis. Keadaan itu dikarenakan negara-negara bagian daulah Islam berlomba-lomba dalam memberi penghargaan atau kedudukan terhormat kepada para ulama dan para pujangga. Namun, pada masa itu situasi politik memanas lantaran munculnya berbagai macam kelompok dan gerakan-gerakan.
Gerakan politik berselimut agama bermunculan, baik yang mendukung pemerintah maupun oposisi di antaranya syiah, khawarij, mu'tazilah. Pada awal abad ke-3 Hijriyah dipegang oleh Khalifah al-Makmun (wafat 218 H) yang pendapatnya sama dengan kaum Mu'tazilah, maka ulama hadis menghadapi ujian berat kala itu. Inilah keadaan yang tidak menguntungkan bagi ulama Hadits abad ini tetap berlanjut pada masa Khalifah al-Mu'tashim (wafat 227 H) dan al-Wasiq (wafat 232 H).
Barulah pada waktu khalifah al-Muwakkil mulai memerintah pada 232 H, ulama Hadis mendapat angin segar yang menyenangkan. Sebab, khalifah ini memiliki kecintaan terhadap Hadits Nabi. Keadaan itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan Hadits. Di masa ini banyak juga bermunculan pemalsu hadis. Hal ini pun mendorong ulama termasuk Imam Muslim untuk mempelajari ilmu hadis. Beliau belajar, mencari hadits, menyeleksi dan menghimpunnya.
Belajar Hadis Sejak 12 Tahun
Al-Hafidz Adz-Dzahabi menuturkan bahwa Imam Muslim mulai belajar hadits sejak tahun 218 H. Berarti usia beliau ketika itu sekitar 12 atau 14 tahun. Beliau melakukan perjalanan dalam mencari ilmu ke beberapa wilayah dalam rangka menuntut ilmu hadis dari mulai Irak, kemudian ke Hijaz, Syam, Mesir dan negara lainnya.
Imam Muslim termasuk di antara ulama yang menghidupi dirinya dengan berdagang. Beliau adalah seorang pedagang pakaian yang sukses. Meski demikian, beliau tetap dikenal sebagai sosok dermawan. Beliau juga memiliki sawah-sawah di daerah Ustu yang menjadi sumber penghasilan keduanya.
Menulis Shahih Muslim Sejak Usia 29 Tahun
Imam Muslim bin Hajjaj memulai menulis karya monumentalnya Shahih Muslim pada tahun 235 H. Ia menulis Shahih Muslim di umur 29 tahun. Imam Muslim bin Hajjaj menyelesaikan Shahih Muslim pada tahun 250 H. Imam Muslim membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk menyelesaikan Shahih Muslim.
Beliau menyelesaikan karya monumentalnya di umur 44 tahun. Sejarah mencatat bahwa Imam Al-Bukhari singgah di Kota Naisabur, tempat menetapnya Imam Muslim sebanyak dua kali. Pertama adalah tahun 209 H, tempat Imam Bukhari singgah di Kota Naisabur di usia Imam Bukhari berumur 15 tahun dan Imam Muslim ketika itu masih berumur empat tahun.
Karena jarak umur itu, sangat mustahil Imam Muslim bin Hajjaj berguru kepada Imam Al-Bukhari saat itu. Kedua adalah tahun 250 H, saat Imam Bukhari menetap dan mengajarkan ilmu Hadis kepada Imam Muslim selama lima tahun di Kota Naisabur. Beberapa tahun setelahnya, Imam Bukhari wafat pada tahun 256 H.
Tahun 250 H adalah tahun kedatangan kedua Imam Bukhari di Kota Naisabur dan tahun yang sama, Imam Muslim telah menyelesaikan karya Kitab Shahih Muslim. Inilah salah satu alasan kenapa Imam Muslim tak mengambil hadits dari Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya.
Imam Muslim Wafat
Imam Muslim wafat Tahun 261 H pada usia 55 tahun Hijriyyah. Disebutkan bahwa wafatnya beliau karena sakit. Sakit beliau dimulai karena suatu ketika beliau tak bisa menjawab permasalah hadis.
Beliau pulang ke rumah, menyalakan lampu kamarnya dan memerintahkan anggota keluarganya untuk tidak mengganggunya ketika di kamar. Beliau diberi sekeranjang kurma. Sambil memikirkan jawaban permasalahan hadis yang sulit itu, beliau memakan kurma sampai habis tanpa disadari sampai pagi.
Sampai akhirnya beliau jatuh sakit. Beliau wafat hari Ahad sore. Kemudian dimakamkan pada malam Seninnya tanggal 25 Rajab Tahun 261 H di Kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur.
Imam Muslim bin Hajjaj (206-261 Hijriyah) ulama ahli hadis yang meriwayatkan hadis-hadis shahih dan valid dari Nabi Muhammad Nabi صلى الله عليه وسلم. Kitab beliau yang paling populer adalah Shahih Muslim yang kini menjadi pegangan dan sumber rujukan bagi umat Islam di dunia.
Seperti halnya Imam Al-Bukhari, Imam Muslim juga melakukan pengembaraan intelektual ke berbagai negeri Islam, seperti Hijaz, Iraq, Syam, Mesir, Baghdad, dan lain-lain guna memburu hadis dan berguru kepada ulama-ulama besar. Banyak ulama dan ahli hadis memuji dan memberi pengakuan terhadap karya beliau.
Ustaz Hanif Luthfi (pengajar Rumah Fiqih Indonesia) dalam bukunya "Biografi Imam Muslim" menyebutkan keistimewaan Imam Muslim berhasil menghimpun 300.000 Hadis Nabi dan menyaringnya. Al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanad lengkap, dari Ahmad bin Salamah, beliau berkata; "Saya melihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim senantiasa mengistimewakan dan mendahulukan Imam Muslim bin Hajjaj di bidang pengetahuan hadis shahih atas guru- guru mereka pada masanya."
Hafalan beliau sangat luar biasa. Imam Muslim dapat menghafal banyak hadis baik sanad dan matannya. beliau pernah berkata, "Aku susun kitab Shahih ini yang disaring dari 300.000 hadits yang saya dengar."
Sumber lain menyebutkan Kitab Shahih Muslim berisi 10.000 hadis yang disebut secara berulang-ulang (mukarrar) atau sebanyak 3.030 buah hadis tanpa pengulangan. Hadis itu disaring dengan sangat ketat dari 300.000 buah hadits selama kurun waktu 15 tahun.
Selain menguasai ilmu hadis, Imam Muslim juga dikenal dengan kedermawanannya. Beliau adalah orang yang dermawan dari Naisabur.Ad-Dzahabi menyebut beliau adalah Muhsin Naisabur(orang dermawannya Naisabur). Karena beliau adalah pedagang yang kaya.
Secara finansial, Imam Muslim bisa dikatakan berkecukupan, karena profesinya sebagai pedangan sukses. Beliau memiliki harta melimpah yang dimanfaatkan untuk pembiayaan perjalannnya dalam mencari ilmu, untuk mendukung semangatnya yang tinggi dalam berguru kepada berbagai ulama dan syeikh di berbagai negeri Islam di dunia.
Semua biaya perjalanan mencari ilmu dan biaya penulisan buku Imam Muslim tidak mengandalkan uluran dana dari orang lain. Padahal pada zamannya, para khilafah dan pejabat negara memiliki perhatian besar dan terbiasa memberikan hadiah dan bantuan materi kepada para ulama yang senantiasa dijadikan rujukan utama dalam menjalankan kebijakan pemerintahannya.
Adapun guru-guru Imam Muslim bin Hajjaj di antaranya beliau berguru kepada Qutaibah bin Said, Yahya bin Yahya, Ishak bin Rahawaih dab Bisyr bin Hakam. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Damaskus ia belajarhadits dari Muhammad bin Khalid. Di Irak belajar hadis kepada Imam Ahmad dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas'Abuzar. Di Mesir berguru kepada 'Amr
bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan masih banyak ulama ahli hadis lainnya.
Pada usia 55 tahun, Imam Muslim mengembuskan nafas terakhir. Beliau wafat hari Ahad sore dan kemudian dimakamkan pada malam Senin tanggal 25 Rajab Tahun 261 H di Kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur. Semoga Allah Ta'ala merahmati dan meridhainya.
Komentar
Posting Komentar