Kutipan Nasihat Abuya Sayyid Alwi Al Maliki

Kutipan Nasihat Abuya Sayyid Alwi Al Maliki

1. Senjata / Bekal Seorang Santri Adalah Buku dan Bolpen [Pena]

2. Tasbih Tidak Pernah Lepas Dari Saku Baju Atau Tasku

3. Orang Yang Melakukan Bid'ah Dikhawatirkan Mati Dalam Keadaan Su'ul Khotimah [Tidak Terpuji]

4. Seharusnya Seorang Santri Mempunyai Bacaan Wirid Untuk Menjaga Dirinya Dari Kesesatan

5. Sedikit Tapi Mantap Itu Lebih Baik Daripada Banyak Tapi Ngawur

6. Seseorang Yang Memiliki Cakrawala Keilmuan Yang Luas, Ia Tidak Akan Protes Terhadap Orang Lain

7. Ilmu Tidak Akan Berkumpul Dengan Sifat Sombong Di Dalam Satu Dada

8. Barang Siapa Yang Merasa Sudah Sampai, Berarti Ia Telah Merusak Permulaannya

9. Bersungguh-sungguhlah Dalam Berkhidmah Kepada Pemuka Agama

10. Sebaik-baiknya Perbuatan Adalah Memenuhi Kebutuhan Orang Lain

11. Tidak Layak Seorang Yang Berakal Bertanya "Mengapa Kalian Memperingati Maulid?", Karena Seolah-olah Ia Bertanya, "Mengapa Kalian Bergembira dengan Adanya Nabi?"

12. Kebanyakan Urusanku Telah Terprogramdan Terencana Dengan Rapi, Tetapi Aku Tidak Mau Diatur Oleh Program Itu

13. Masyarakat Jawa [Indonesia] Adalah Masyarakat Yang Berakhlak Baik dan Pemurah

14. Sifat Zuhud Bukan Terletak Pada PakaianDan Penampilan, Tetapi Terletak Di Sini [Yakni Hati]

15. Keistimewaan Tidak Memberikan Arti Keutamaan

16. Waspada Terhadap Pemikiran Jumud [Kaku] Dari Madzhab-madzhab Perusak

17. Aku Marah Terhadap Murid Yang Tidak Sopan Ketika Membaca Wirid, Lebih-lebih Ketika Membaca Al-Quran

18. Menjadi Seorang Guru Bukan Dengan Warisan, Akan Tetapi Dengan Belajar Dan Menuntut Ilmu

19. Kunci Segala Rahasia Bersumber Pada Bacaan Shalawat Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

20.Seharusnya Seorang Santri Banyak Beribadah Untuk Menjaganya Dari Maksiat Dan Menguatkan Hafalannya

21. Jadikanlah Shalawat Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Senantiasa Berada Di Antara Kamu dan Munajatmu

22. Karena Satu Orang Maka Seribu Orang Dimuliakan

23. Dalam Perjalananku, Aku Selalu Membawa Kitab, Demi Mengikuti Jejak Ayahanda

24. Jangan Ikut Campur Dalam Urusan Politik, Engkau Lebih Mengerti Situasi Daerahmu

25. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Harus Dilakukan Dengan Sikap Bijak, Lembut Dan Bertahap

26. Kehidupan Yang Indah Adalah Jika Bisa Membantu Seseorang Dalam Beribadah Dan Melakukan Ketaatan

27. Aku Tidak Pernah Bosan Untuk Menyebarkan Ilmu, Walaupun Kepada Satu Orang

28. Orang Yang Tidak Bisa Memanfaatkan Kemuliaan Waktu Dan Tempat, SungguhIa Amat Merugi

29. Akhlak Lebih Didahulukan Daripada Ilmu

30. Kalian Harus Melanggengkan Bacaan Wirid, Sebab Wirid Dapat Menjadi tameng dan Perisai Diri

31. Kebiasaan Orang Mulia, Adalah Semulia-mulianya Kebiasaan

32. Siapa Saja Yang Memiliki Kitab Wiridku, Berarti Ia Telah Mendapatkan Ijazah. Ijazah Ini Bukan Dariku, tetapi Langsung Dari Para Pengarang Wirid-wirid tersebut

33. Surga Itu Tudak Gratis, Belilah Surga Itu Dengan Hartamu, Amalmu, Dan Dengan Tenagamu

34. Sesuatu Yang Tidak Kamu Ketahui, Maka Jangan Sekali-kali Kamu Menyentuhnya [mengerjakannya]

35. Ilmu Mudah Didapatkan, Tetapi Melayani [Khidmah] Kepada Ulama Susah Didapatkan.

WASIAT Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al maliki :

Prof. Dr. al-Muhaddits al-Haramain as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani memberikan wasiat yang sangat berharga dan mulia kepada kita semua. Beliau mengakhiri wasiatnya (no. 11-14) dengan wasiat yang pernah diberikan oleh ayahandanya, al-Muhaddits al-Haramain as-Sayyid Alawi bin Abbas bin Abdul Aziz al-Maliki, dari al-Habib Alawi bin Thohir al-Haddad:

1. Aku wasiatkan kepada orang yang telah aku ijazahkan, dan diriku agar senantiasa bertaqwa kepada Allah Swt., meluruskan niat menuntut ilmu dengan ikhlas dan jujur hanya untuk mengharapkan ridha Allah Swt.

2. Aku wasiatkan juga supaya bersungguh-sungguh mencari ilmu.

3. Aku wasiatkan agar jadikan al-Quran sebagai wirid, bertafakkur tentang kandungan ayat-ayatnya yang sempurna, mendalami mutiara-mutiara maknanya sehingga keluarlah lautan pengetahuan dan permatanya sesuatu yang dapat melapangkan dadamu, menambahkan keyakinan dan keberagamamu, menghadirkan kebesaran pemiliknya (Allah Swt.).

4. Aku juga mewasiatkan agar jadikan bacaan kitab-kitab tasawwuf sebagai wirid. Renungkanlah dirimu di dalamnya, jadikan ia sebagai sahabat dan karibmu pada waktu pagi dan petang, jadikan ia peganganmu pada semua keadaan. Paksalah dirimu untuk beramal dengan isi kandungannya dan meninggalkan perkara-perkara yang dicegahnya.

5. Aku juga mewasiatkan kepadamu agar senantias berakhlak baik terhadap semua manusia.

6. Jadilah kamu manusia yang paling lemah lembut dan bersopan santun, memaafkan orang yang mendzalimimu, memberi kepada orang yang memutuskan hubungan denganmu dan membalas orang yang melakukan kejahatan terhadapmu dengan kebaikan. Maafkan kesalahannya terhadapmu sekalipun kesalahannya itu besar.

7. Kasihilah orang-orang faqir dan lemah, duduklah bersama orang-orang miskin dan hadiri semua majelis mereka tanpa merasakan bahwa kamu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada mereka. Tetapi rasakanlah bahwa kamu merupakan orang yang paling hina di kalangan mereka.

8. Aku juga mewasiatkanmu dengan sifat wara’. Karena ia merupakan pokok agama ini dan pegangan orang-orang yang senantias mengharap ridha Allah Swt.

9. Aku juga mewasiatkan agar bersangka baik terhadap Allah dan sekalian kaum Muslimin. Karena sifat tersebut mengandung segala keberuntungan.

10. Aku juga mewasiatkan agar bersungguh-sungguh menyebarkan ilmu dan mengajar manusia

11. Hendaklah orang yang diijazahkan menjadikan sebuah kitab tertentu sebagai rujukan dan peringatan, terutama saat sibuk berdakwah di jalan Allah. Perkara pertama yang perlu dilazimi oleh orang yang ingin berdakwah setelah memahami hokum-hukum syariat ialah mengetahui segala janji baikNya bagi orang yang melakukan ketaatan dan janji burukNya bagi orang yang melakukan maksiat yang terkandung di dalam al-Quran dan al-Hadits. Niscaya hati akan senantiasa merasakan rindu dan di dalamnya terpancar cahaya iman.

12. Untuk mengetahui semua perkara tersebut, silakan baca kitab an-Nashaih ad- Diniyah wa al-Washaya al-Imaniyah karya al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Hadddd. Sekalipun isinya ringkas tetapi dalam kitab tersebut telah terkumpul perkara-perkara yang sangat diperlukan oleh semua orang Islam.

13. Sekiranya hendak mengetahui thariqah yang khusus dan adab yang telah disyariatkan, lazimkanlah membaca kitab ad-Da’wat at-Tammah wa at-Tadzkirah al-‘Ammah karya al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Janganlah membacanya hanya bertujuan untuk mengambil berkah, tetapi berniatlah (‘azm) untuk meraih kefahaman dan memberikan kefahaman kepada orang lain. Maka keberkahan yang hakiki adalah apabila disertai dengan pengamalan.

14. Waspadalah dalam menjadikan suatu kebiasaan hanya mengulang-ulang membaca permasalahan fiqih, siang dan malam, semasa tua dan muda, tanpa membaca kitab agama yang lain seperti ilmu tafsir, hadits dan tasawuf. Dengan membatasi bacaan hanya pada kitab-kitab fiqih adalah suatu kelemahan, kejumudan dan menjauhkan diri dari akhlak yang baik serta menjadikan kerasnya hati.

Demikianlah yang telah diwasiatkan oleh guru-guru kami dan selainnya. Apabila zaman telah menjadi zaman bid’ah, fitnah dan syubhat, maka hendaklah para penuntut ilmu mempersiapkan dirinya untuk menjadi salah seorang dari orang-orang yang mempertahankan agama Allah dan menegakkan hujjahNya di atas muka bumi. Seseorang tidak akan mampu menjadi yang demikian itu, jikalau tidak cukup dan cakap dalam setiap ilmu. Barangiapa yang memohon pertolongan Allah, maka Allah akan memberikan bantuanNya.”

Keterangan foto: Al-Habib Saggaf bin Mahdi (Parung-Bogor), KH. Mahrus Ali (Lirboyo-Kediri) dan As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki (Mekkah), saat kunjungan beliau ke Pondok Pesantren Lirboyo-Kediri tahun 1981 M.

Komentar