Mutiara Sufi Abu Yazid al busthami

Mutiara Sufi Abu Yazid al busthami

Selama tiga puluh tahun aku mencari Tuhan. Tapi ketika saya melihat dengan hati-hati saya menemukan bahwa pada kenyataannya Tuhan adalah pencari dan saya yang dicari.

 Melupakan diri (Keakuan diri) adalah mengingat Tuhan.

Musa ingin melihat Tuhan
Saya tidak ingin melihat Tuhan

Aku tidak pernah melihat cahaya yang bersinar lebih cemerlang dari pada cahaya keheningan.

Saya tidak ingin berkehendak, karena kehendak saya tanpa nilai, karena saya tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, pilihlah untukku apa yang terbaik bagiMu dan jangan meletakkan kebinasaanku dalam memilih otomasi dan kebebasanku.

Hal yang kita katakan tidak akan pernah bisa ditemukan dengan mencari, namun hanya pencari yang menemukannya.

“Saya telah bermujahadah (beribadah sungguh-sungguh) selama 30 tahun. Tidak ada yang paling berat bagiku selain mempelajari ilmu dan mengamalkannya. Kalau bukan karena perbedaan para ulama, pasti saya akan tetap mendalaminya. Perbedaan pendapat para ulama adalah rahmat kecuali dalam masalah tauhid.” Dikatakan pula bahwa Abu Yazid tidak meninggalkan dunia kecuali dia telah mengkhatamkan Al-Qur’an seluruhnya.

Pernah ditanyakan tentang awal taubat dan kezuhudannya, lalu dijawab, “Zuhud tidak mempunyai kedudukan.” Ditanyakan lagi, “Mengapa?” Jawabnya, “Karena ketika saya berzuhud selama tiga hari, pada hari keempatnya saya keluar dari zuhud. Hari pertama saya zuhud dari dunia dan seisinya, pada hari kedua saya zuhud dari akhirat dan seisinya, pada hari ketiga saya zuhud dari apa saja selain Allah. Maka pada hari keempat tiadalah yang tersisa selain Allah, lalu saya menemukan suatu kesimpulan pengertian. Tiba-tiba saya mendengar suara bisikan yang mengatakan, “Wahai Abu Yazid, tidak ada rasa takut orang yang bersama kami.” Saya pun menimpalinya, ‘Inilah yang saya inginkan. Datanglah suara berikutnya yang mengatakan, 'Kamu telah menemukan, kamu telah menemukan.'

Pernah ditanyakan, “Penghalang apa yang paling berat dalam melalui jalan menuju Allah?” Jawabnya, “Saya tidak dapat menerangkannya.” Ditanyakan lagi, “Usaha apakah yang paling ringan untuk menghindari nafsu?” Jawabnya, “Kalau ini saya dapat menerangkan. Saya pernah mengajak hawa nafsuku untuk taat pada Allah SWT., namun ia menolaknya, lalu saya jauhi air (berpuasa) selama setahun.”

Jika kamu melihat seorang yang telah diberi keramat sampai ia bisa terbang di udara sekalipun, maka janganlah tertipu dengannya, sehingga kamu dapat menilai kesungguhannya dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah, dalam menjaga batas-batas hukum Allah, dan dalam melaksanakan syariat Allah.

Pamanku, Al-Busthami pernah menceritakan dari ayahnya. Dia mengatakan, "Di suatu malam pernah Abu Yazid pergi ke suatu markas (tempat) untuk berdzikir di tempat itu, namun sampai pagi ia tidak dapat berdzikir. Saya tanyakan sebabnya, lalu dijawab, ‘Saya teringat sebuah kata ketika saya masih kecil yang kata ini berputar-putar terus di lidahku, sehingga saya malu untuk berdzikir kepada Allah’."

Risalah Qusairiyah (Karangan: Imam Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Naisaburi)

Komentar